Ketika kita berbicara tentang masa depan suatu bangsa, maka itu berarti berbicara pendidikan. Ketika berbicara pendidikan, maka tidak bisa lepas dari berbicara tentang guru. Guru memang memiliki peran dan fungsi yang sangat penting. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik dalam pendidikan formal, informal, maupun non-formal. Saking vitalnya peran guru tersebut, John F. Kennedy pernah menyorotinya saat ia mendapati Amerika Serikat ketinggalan dari Uni Soviet yang berhasil lebih dahulu meluncurkan satelit Sputnik. Sang Presiden yang memimpin AS di masa perang dingin itu berkata dengan pertanyaan retoris yang menohok peran guru, “What’s wrong in our classroom?”.

Meskipun peran dan fungsi guru sangat vital, ironisnya kualifikasi guru di Indonesia belum memadai dan juga belum sesuai harapan. Secara kompetensi, menurut data hasil UKG (Uji Kompetensi Guru) yang dilaksanakan tahun 2015 yang lalu, rata-rata UKG nasional hanya 53,02. Ini masih di bawah standar KKM yang telah ditentukan, yaitu sebesar 55. Di sisi lain, secara kepribadian, alih-alih memberikan keteladanan, oknum guru justru berbuat yang tidak pantas digugu dan ditiru siswanya. Kasus-kasus guru yang melecehkan anak didiknya banyak terkuak dan nampak ke permukaan.

Padahal guru dihadapkan pada tantangan besar berupa arus globalisasi yang mengalir begitu deras dan merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Pemikiran dan budaya asing masuk dengan begitu mudahnya. Banyak remaja akhirnya terbawa arus, kehilangan identitas dan mengalami degradasi moral. Nilai-nilai ketimuran dan Islam hilang tak berbekas. Generasi muda larut dalam atmosfer globalisasi. Akhirnya, mereka menjadikan peradaban Barat sebagai kiblat kehidupan mereka.

Hal tersebut ditunjukkan dengan perilaku yang muncul dalam kehidupan sehari-hari para remaja saat ini, seperti tawuran pelajar, seks bebas, pesta seks, arisan seks pelajar, pelecehan seksual, perkosaan, pesta narkoba dan miras, peredaran VCD porno, nonton bareng film porno, hamil di luar nikah, aborsi, HIV/AIDS dan berbagai perilaku negatif lainnya. Bahkan, tentu masih segar dalam ingatan kita terkait kasus Yuyun, dimana semua pelakunya masih berusia remaja, dan sebagiannya adalah pelajar.

Di sisi lain, guru menghadapi perlakuan yang tidak pantas dari orang tua siswa. Bahkan murid pun sudah berani berbuat tidak pantas kepada pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Masih segar dalam memori kita bersama, kasus guru yang bernama Ali Bata Ritonga, guru di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Fauzan di Kabupaten Labuhanbatu, babak belur dihajar murid dan orang tuanya karena persoalan sepele. Juga kasus seorang guru SMPN 1 Bantaeng, Nurmayani Salam, yang harus mendekam di penjara Mapolres Bantaeng karena mencubit siswanya. Dan masih banyak lagi kasus-kasus serupa yang menimpa guru.

Alhasil, permasalahan pendidikan pun semakin runyam. Kurikulum yang ada pun tidak mampu memberikan solusi, bahkan tidak mengarah kepada pembentukan generasi yang gemilang. Kurikulum yang diterapkan saat ini lebih mementingkan transfer pengetahuan, dan tidak ada misi membentuk moral, karakter apalagi kepribadian siswa.

Kalau kita lakukan analisis terhadap realita yang ada, sebenarnya guru merupakan output dari sistem pendidikan juga. Orang yang saat ini menjadi guru adalah warga negara yang dulu telah melewati berbagai jenjang pendidikan yang menghantarkannya sekarang ini menjadi guru. Maka dari itu, tepat jika dikatakan bahwa penyebab rendahnya kualitas guru bermula dari kegagalan sistem pendidikan yang diterapkan. Ya, itu disebabkan karena sistem pendidikan sekulerisme yang diterapkan di negeri ini. Sistem yang melahirkan dikotomi pendidikan umum dan pendidikan “agama” dan menjauhkan para pelajarnya dari ajaran agama.

Pendidikan dalam sistem sekulerisme tidak ditujukan membentuk kepribadian. Pendidikan justru dijadikan sebagai penopang mesin kapitalisme untuk menyediakan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan keahlian. Akibatnya kurikulum yang disusun lebih menekankan pada aspek kognitif dan skill, namun kosong dari nilai-nilai agama dan moral. Pendidikan akhirnya hanya melahirkan manusia robot, pintar dan terampil, tapi tidak paham ilmu agama, bahkan ada yang berkarakter buruk.

Bila guru terus melakukan tugasnya dengan paradigma sekulerisme, maka output-nya tentu bisa kita tebak. Guru secara berulang akan menelurkan sumber daya manusia yang sama. SDM yang kuat dalam kognisi, handal menjadi teknisi, berdaya saing di tengah dunia indutsri, namun tak nampak padanya kepribadian Islam. Siklus ini akan terus berulang selama sistem pendidikan masih bertolak pada asas tadi.

Maka, dengan momentum Hari Guru ini, sudah saatnya guru memutus penyebab permasalahan pendidikan tersebut. Guru (dan juga sekolah) harus memodifikasi kurikulum dan menjadikan Islam sebagai asasnya. Guru juga harus menjalankan tiga tugas strategis sesuai dengan arahan Islam, yang akan melahirkan generasi cerdas, shalih dan mushlih, yakni (1) mendidik anak didiknya untuk memiliki kepribadian Islam serta menjadi teladan bagi anak didiknya, (2) membekali siswanya dengan tsaqofah Islam, dan (3) mendidik mereka dengan keahlian dan spesialisasi di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Guru yang mampu melakukan hal seperti itu adalah guru yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Berkepribadian Islam, sehingga mampu membentuk anak didiknya berkepribadian Islam. Hal ini meniscayakan gurunya mengkaji Islam sehingga paham.
2. Memiliki etos kerja yang baik.
3. Amanah, dan
4. Kapabel menjalankan tugasnya, oleh karena itu guru harus mau terus meningkatkan kualitas diri.

Upaya perbaikan di atas bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan oleh para guru dan sekolah. Namun, hal itu akan menjadi sangat mudah dan lebih menyeluruh bila didukung dan dilakukan oleh negara. Dalam hal ini, negara harus menerapkan dan membangun sistem pendidikan yang tepat dan berangkat dari asas yang shahih, yakni Islam.

Sumber: http://www.makmalpendidikan.net/memutus-siklus-permasalahan-pendidikan-indonesia/

Follow us:     Facebook     Instagram