Berbicara kualitas generasi Islam pada masa Kekhilafahan Islam akan membuat siapapun, baik muslim maupun non-muslim, berdecak kagum.

Betapa tidak, berbagai penemuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dipelopori oleh cendikiawan Muslim.

Itu tentu bukanlah hal berlebihan, karena berbagai kemajuan yang saat ini ada, meskipun Barat menutup-nutupi, adalah sumbangsih peradaban Islam.

Hal itu diakui secara objektif oleh Montgomery Watt. Di dalam bukunya The Influence of Islam on Medieval Europe (1994), ia mengemukakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi motornya, kondisi Barat tidak akan ada artinya.

Namun kita mungkin merasa bingung mengapa kualitas generasi Islam saat ini tidak sehebat generasi pendahulunya? Padahal generasi saat ini memiliki fasilitas belajar yang lebih modern dan dengan infrastruktur yang lebih maju dibandingkan masa lampau.

Berkaitan dengan hal itu, kita perlu kilas balik sejarah bagaimana generasi Islam pada masa lalu bisa terbentuk seperti itu.

Kalau kita mengkaji sejarah Islam, maka kita akan mendapati bahwa umat Islam pada era Kekhilafahan mempunyai kualitas yang hebat.

Cendikiawan Muslim bermunculan bak jamur di musim hujan. Berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi berhasil dikembangkan.

Pada masa itu, putra-putri Islam sudah hafal Al-Quran rata-rata pada saat usia 5-10 tahun.

Misalnya Imam Syafi’i hafal Al-Quran pada usia 7 tahun, Ibnu Khaldun saat usia 7 tahun, Ibnu Sina di usia 5 tahun, dan Muhammad al-Fatih hafal Al-Quran dalam usia 8 tahun.

Disamping itu, anak-anak usia 7 tahun sudah mengkaji Kitab Alfiyah Ibnu Malik, kitab nahwu yang pada jaman sekarang dianggap tingkat tinggi dan berat.

Secara prestasi generasi Islam pada masa itu pun sangat spektakuler dengan tetap memiliki akhlak yang mulia.

Sebagai contoh, Imam Syafi’i hafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik yang isinya lebih dari 18.000 hadits pada usia 9 tahun, dan sudah mendapat kewenangan berfatwa saat usia 15 tahun.

Ibnu Sina menjadi dokter profesional pada usia 17 tahun, dan menjadi fisikawan di saat umurnya 18 tahun.

Muhammad al-Fatih menguasai delapan bahasa internasional saat umur 16 tahun, menjadi gubernur di usia 12 tahun. Pada umur 21 tahun sudah mampu menjadi Khalifah, dan akhirnya mampu menaklukkan Konstantinopel di usianya yang belum genap 25 tahun.

Disamping itu, cendikiawan-cendikiawan Muslim yang terlahir juga tergolong polymath. Karena mereka bukan hanya menjadi ahli pada satu bidang tertentu, namun memiliki keahlian lebih dari satu.

Luar biasa bukan?

Namun perlu diketahui bahwa hal-hal luar biasa (menurut perspektif kita saat ini) ternyata itu adalah hal-hal yang sudah umum terjadi pada masa lalu (masa kejayaan Islam).

Semua kehebatan itu dianggap sudah umum terjadi di era nya. Namun sekarang itu susah untuk diwujudkan. Kenapa demikian?

Inilah jawaban pertama mengapa kualitas generasi Islam pada masa lalu dibandingkan masa sekarang itu berbeda.

Jawaban pertama, karena pada masa itu budaya atau tradisi di kalangan kaum muslimin tidak sama dengan sekarang.

Tradisi belajar pada masa kejayaan Islam berbeda dengan saat ini.

Generasi Islam pada masa itu dengan motivasi belajar yang tinggi sudah biasa melakukan hal-hal yang saat ini dianggap tidak biasa.

Sedangkan generasi Islam masa kini tidak terbiasa melakukan hal-hal yang sudah biasa dilakukan oleh generasi Islam pada masa lalu.

Kemudian faktor kedua mengapa kualitas generasi saat ini berbeda dengan masa lalu adalah karena sistem pendidikan (dan sistem kehidupan) yang diterapkan saat itu adalah sistem yang terbaik, yaitu sistem Islam.

Dalam sistem pendidikan Islam, generasi Islam dididik dengan kurikulum dan metode pendidikan yang terbaik sesuai dengan Syariah Islam.

Kurikulumnya terbaik berasaskan Islam. Gurunya adalah guru terbaik berdasarkan kualifikasi Islam. Negara memberikan layanan pendidikan dengan fasilitas terbaik karena mengikuti petunjuk Islam.

Dampaknya adalah generasi Islam saat itu terbentuk kualitasnya secara sistemik. Mereka terkondisikan dengan rangkaian perjalanan dan capaian pendidikan kurang lebih sebagai berikut:

Saat usia 5 hingga 10 tahun sudah hafal Al-Qur’an 30 juz.

Kemudian pada rentang usia 10-19 tahun mereka sudah hafal kitab hadits, belajar fiqih, ilmu kehidupan, dan ilmu-ilmu lainnya.

Dan saat usia 20 tahunan sudah menjadi orang besar di masyarakat dengan prestasi gemilang, bahkan ada yang lebih cepat dari Itu.

Sedangkan generasi saat ini dididik dengan sistem pendidikan (dan hidup dalam sistem kehidupan) sekuler.

Meskipun ada generasi Islam saat ini yang berkualitas, namun itu tidak bisa diwujudkan secara massal seperti pada era sistem Islam diterapkan.

Walhasil, jika kita menginginkan kualitas generasi saat ini sehebat generasi Islam terdahulu, maka kita harus menghadirkan kembali tradisi seperti yang sudah dicontohkan oleh generasi emas umat ini.

Dan tradisi itu akan bisa dikembangkan apabila sistem Islam diterapkan kembali dalam bidang pendidikan dan seluruh aspek kehidupan lainnya.

Oleh : Zayd sayfullah (@TrainerTOPS)

Follow us:     Facebook     Instagram