Diawali tahun 2004, menimba ilmu D1 PGTK Nurul Fikri Depok, saat itulah hatinya mulai terpaut dengan dunia pendidikan. Setelah lulus dari D1 PGTK dan S1 Universitas Indonesia, beliau memutuskan berkarier sebagai guru TK di daerah Depok. Setelah dua tahun menjadi guru, hatinya terpanggil untuk mendirikan sekolah darurat di Nanggroe Aceh Darussalam pasca-tsunami tahun 2004. Pada 2008, selepas pulang dari Aceh, ia bergabung ke Makmal Pendidikan sebagai trainer dengan kekhususan materi di bidang kreativitas menata ruang kelas.

Pengalaman pertama mengisi training di Madura, membuat beliau akhirnya memutuskan mendalami dunia pelatihan. Kemampuan delivery trainingnya terasah saat mengikuti TBnC (Training Boothcamp and Contest) yang dibimbing langsung oleh Master Trainer Jamil Azzaini dari Kubik Leadership. Saat itu, beliau masuk 7 finalis terbaik.

Sejak saat itu, dunia training bukan hal yang baru bagi beliau. Beberapa propinsi/kota/kabupaten pernah disambangi mulai dari Aceh hingga Sulawesi Selatan. Materi display ruang kelas menjadi materi andalannya. Alasannya, banyak pendidik yang kurang peduli untuk menyiapkan lingkungan belajar siswa. Padahal berdasarkan hasil penelitian, lingkungan belajar yang postif turut menyumbang 25% keberhasilan proses belajar. Saat memperingati hari guru tahun 2009, beliau pernah simulasi display dengan membuat kertas kerja siswa bersama 700 peserta. Kertas kerja tersebut ditempelkan pada kain sepanjang 5 m.

Haus mencari ilmu dan terus belajar kapan saja dimana saja, menjadi salah satu moto hidupnya. Saat ini, ditengah-tengah kesibukan mengisi training guru, beliau melanjutkan studi Pascasarjana Jurusan Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak di Institut Pertanian Bogor. Bagi beliau, jika tidak bisa dengan materi untuk berbagi, setidaknya dengan ilmu yang dimiliki kita bisa memberikan manfaat bagi orang lain.